Drama Izin Luar Negeri Rico Waas, Azrul Hasibuan: Pak Bobby Jangan Pakai Standar Ganda.

 



MEDAN
– Ketegangan politik antara Balai Kota Medan dan Kantor Gubernur Sumatera Utara tampaknya mulai memasuki babak baru. Sikap Gubernur Sumut, Bobby Nasution, yang mempermasalahkan kepergian Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, ke luar negeri untuk berobat, langsung memicu reaksi keras dari Pimpinan Daerah Ikatan Sarjana Al Washliyah (PD ISARAH) Kota Medan.

Ketua PD ISARAH Kota Medan, Azrul Hasibuan, tidak tanggung-tanggung dalam melayangkan serangan balik. Ia menilai reaksi Bobby Nasution memprotes kepergian suksesornya itu terkesan sangat berlebihan, bahkan mencap sikap sang Gubernur seperti tindakan yang "cengeng dan kekanak-kanakan".

Aroma Standar Ganda sang Mantan Wali Kota Azrul mengingatkan publik pada rekam jejak masa lalu. Menurutnya, saat Bobby Nasution masih menduduki kursi Wali Kota Medan, menantu Presiden ke-7 itu diyakini juga kerap melakukan perjalanan ke luar daerah maupun luar negeri tanpa harus membuat pengumuman terbuka atau dipolemikkan oleh Gubernur saat itu.

“Jangan membuat standar yang berbeda ketika posisi sudah berubah menjadi gubernur. Ketika beliau masih menjadi Wali Kota Medan, kami meyakini hal serupa juga sering dilakukan. Jadi, urusan kesehatan yang manusiawi ini jangan dibesar-besarkan seolah ada pelanggaran dosa besar,” sindir Azrul Hasibuan dengan nada tajam, Senin (18/5).

Lanjutkan Proyek Warisan, Kok Malah Diserang? Sisi satir lain yang disorot oleh kaum sarjana Al Washliyah ini adalah fakta di lapangan mengenai keberlanjutan pembangunan. Azrul menyebut, alih-alih merombak total kebijakan, Rico Waas justru sejauh ini setia mengawal dan melanjutkan berbagai program infrastruktur yang dirancang oleh Bobby Nasution sewaktu memimpin Medan.

Bagi ISARAH, menyerang Rico secara politis di tengah adanya kesinambungan pembangunan ini adalah sebuah ironi politik yang tidak substansial. Publik dinilai lebih membutuhkan hasil kerja nyata dibanding drama saling intip absensi kehadiran kepala daerah.

PD ISARAH pun meminta agar perseteruan elite ini segera diakhiri agar pelayanan publik di Kota Medan tidak tersandera oleh ego politik pasca-suksesi kepemimpinan. Publik kini menanti, apakah Gubernur Bobby akan merespons "kartu kuning" dari para sarjana ini, atau drama izin keluar negeri ini akan terus digoreng menjelang konstelasi politik yang lebih besar?

Posting Komentar

0 Komentar