PANTAI LABU, Parnadaily.com
Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa berbeda di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang.
Bukan hanya melalui berbagai perlombaan rakyat, masyarakat setempat kembali menghidupkan salah satu tradisi khas pesisir, yakni lomba dayung sampan tradisional di Sungai Kenang, Selasa (18/8/2026).
https://youtu.be/Ns48SQn5XWc?si=iPL7Ca9Uu4-Y-G93
Sejak siang hari, tepian sungai dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan langsung adu kecepatan para pendayung. Sorakan penonton terdengar riuh setiap kali sampan mulai bergerak meninggalkan garis start.
Sebanyak 14 tim dari Desa Paluh Sibaji, Desa Pantai Labu Pekan dan Desa Regemuk ikut ambil bagian. Setiap tim diperkuat tiga pendayung yang harus mengandalkan kekompakan, kecepatan dan ketepatan ritme kayuhan untuk mencapai garis finis.
Nama-nama tim yang bertanding antara lain Raissa 1 hingga Raissa 5, Garuda Muda, My Sodaro, Delima Laut 1 hingga Delima Laut 4, Teratai, Nuri Indah dan Jaguar.
Perlombaan dimulai sekitar pukul 14.30 WIB. Sejak babak penyisihan, persaingan berlangsung ketat. Setiap sampan berusaha melaju secepat mungkin, sementara penonton dari tepian sungai terus memberikan dukungan kepada tim jagoan mereka.
Pembukaan lomba dilakukan langsung Kepala Desa Paluh Sibaji, Nasri, yang juga Ketua KONI Kecamatan Pantai Labu. Nasri membuka perlombaan atas perahu motor bersama Ketua Panitia, Saiful.
Menurut Nasri, lomba tersebut memiliki makna lebih dari sekedar hiburan dalam rangkaian perayaan kemerdekaan.
Tradisi dayung sampan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Pantai Labu dan telah diwariskan sejak puluhan tahun yang lalu.
«“Lomba dayung sampan tradisional ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-81 sekaligus melestarikan budaya dan tradisi masyarakat nelayan di Pantai Labu agar tidak kalah dengan perkembangan zaman,” ujar Nasri.»
Ia menyebutkan, tradisi tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1978. Oleh karena itu, keberlangsungannya dinilai penting agar generasi muda mengenal dan mencintai budaya yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat pesisir.
«“Lomba sampan dayung tradisional ini sudah ada sejak tahun 1978 dan harus terus dilestarikan. Jangan sampai tradisi yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat kita hilang ditelan zaman,” katanya.»
Empat Tim Melaju ke Grand Final
Setelah melalui babak penyisihan dan semifinal, persaingan mengerucut menjadi empat tim yang berhak tampil di babak Grand Final.
Keempat tim tersebut yakni Delima Laut 1, Delima Laut 2, Jaguar dan Nuri Indah.
Babak final menjadi tontonan yang paling dinantikan. Empat sampan kembali mengambil posisi masing-masing di arena. Begitu aba-aba diberikan, para pendayung langsung mengerahkan tenaga.
Kayuhan demi kayuhan dilakukan secara serempak. Sampan yang semula bergantian mulai saling meninggalkan. Sorak-sorai penonton pun semakin keras hingga akhirnya sampan Nuri Indah berhasil menyentuh garis finis lebih dulu.
Tim Nuri Indah keluar sebagai juara pertama, disusul Delima Laut 1 sebagai juara kedua, Jaguar juara ketiga dan Delima Laut 2 menempati posisi keempat.
Ketua Panitia Saiful mengatakan, pelaksanaan lomba berlangsung meriah dan mendapat antusiasme besar dari masyarakat.
«“Setelah babak penyisihan, kita ambil delapan besar untuk masuk semifinal. Kemudian empat tim berhasil masuk Grand Final, yaitu Delima Laut 1, Delima Laut 2, Jaguar dan Nuri Indah,” ujar Saiful.»
Para pemenang mendapatkan trofi, uang pembinaan serta beras sebanyak 90 kilogram.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Camat Pantai Labu, Fitri.
Antusiasme masyarakat yang memadati tepian Sungai Kenang menjadi gambaran bahwa tradisi lama masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.
Bagi warga Paluh Sibaji dan Pantai Labu, lomba dayung sampan bukan sekadar persoalan siapa yang paling cepat mencapai garis finis.
Lebih dari itu, setiap kayuhan menjadi simbol kekompakan, semangat gotong royong serta penghormatan terhadap kehidupan masyarakat nelayan yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya.
Hampir lima dekade sejak pertama kali digelar pada 1978, tradisi tersebut masih mampu menarik perhatian masyarakat.
Dari Sungai Kenang, semangat kemerdekaan kembali dirayakan dengan cara yang khas—melalui sampan, dayung dan kekuatan tradisi yang terus dijaga.
Selama generasi muda masih mau meneruskannya, warisan masyarakat pesisir Paluh Sibaji tidak akan sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi akan terus hidup dan menjadi identitas budaya bagi generasi mendatang.
#HUTRI81 #KemerdekaanRI #LombaDayung #PaluhSibaji #PantaiLabu #DeliSerdang #BudayaPesisir #TradisiNelayan #SungaiKenang #Parnadaily(red)



0 Komentar
Tinggalkan Pesan Anda Disini