Kematian di Kamar Hotel, Amarah Mahasiswa Meledak : SERBU Desak Penutupan Mike Hotel


Tanjungbalai, Parnadaily.com, -
 Kematian seorang pengunjung di sebuah kamar hotel pada Minggu (22/3/2026) bukan sekadar peristiwa sunyi di balik pintu tertutup. Insiden itu menjelma menjadi bara yang menyulut kemarahan publik. Selasa pagi, gelombang mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Bersatu (SERBU) turun ke jalan, menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Tanjungbalai.



Di bawah terik matahari, suara pengeras Toa dengan mengangkat ke atas membelah udara. Orasi bergema. Bagi SERBU, kematian tersebut adalah puncak dari serangkaian persoalan yang selama ini dianggap dibiarkan.


"Ini bukan hanya soal satu kematian. Ini soal pembiaran yang sudah berlangsung lama," tegas Adam, perwakilan SERBU, dalam orasinya di Kantor Wali Kota Tanjungbalai, Senin (30/3/2026). 



Ia menuding, operasional Mike Hotel selama ini diduga kerap menjadi ruang bebas bagi praktik yang melanggar norma dan aturan. Lemahnya pengawasan disebut sebagai pintu masuk berbagai dugaan pelanggaran mulai dari pasangan tanpa ikatan resmi hingga potensi penyalahgunaan narkoba.


"Tidak ada kontrol yang jelas. Tamu bebas keluar masuk tanpa pemeriksaan identitas yang ketat," ujarnya.


Sorotan mahasiswa tidak berhenti pada peristiwa terbaru. Mereka mengungkit kembali razia penyakit masyarakat (pekat) yang pernah dilakukan pada 2024 lalu oleh aparat gabungan. Dalam operasi itu, petugas menemukan alat hisap sabu dan keberadaan anak di bawah umur di salah satu kamar temuan, yang menurut mereka, seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah.



Namun, bagi SERBU, alarm itu seperti diabaikan.
Di tengah orasi yang semakin memanas, tuntutan pun ditegaskan: pencabutan izin operasional Mike Hotel. Adam juga mendesak Polres Tanjungbalai untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap aktivitas hotel yang diduga melanggar hukum.



"Kalau tidak ada tindakan tegas, kejadian seperti ini bisa terulang. Siapa yang bertanggung jawab?" seru Adam,

 

Aksi tersebut tak hanya menyoroti satu bangunan hotel, tetapi juga mengarah pada wajah pengawasan kota. SERBU menilai Pemerintah Kota Tanjungbalai dan aparat penegak hukum terkesan lamban dan tidak konsisten dalam menindak dugaan pelanggaran yang terjadi.


Di sisi lain, ironi mencuat. Di tengah gaung program "Tanjungbalai EMAS" yang menjanjikan kota yang religius, bersih, dan berdaya saing, mahasiswa menilai masih ada ruang-ruang gelap yang luput dari perhatian.



Hingga aksi berakhir, belum ada pernyataan resmi dari pihak pemerintah maupun pengelola hotel terkait tuntutan tersebut. Namun satu hal jelas : kematian di kamar itu telah membuka kembali luka lama tentang pengawasan, tanggung jawab, dan wajah kota yang dipertanyakan.

Posting Komentar

0 Komentar